Kemarahan Global Meningkat atas Kematian George Floyd
Wednesday, 3 June 2020 18:31 WIB | GLOBAL |Global

Kemarahan meningkat di seluruh dunia pada kematian George Floyd, laki-laki Amerika keturunan Afrika yang meninggal minggu lalu setelah ditangkap oleh polisi di jalan kota di Minneapolis, Minnesota.

Diplomat senior Uni Eropa, Josep Borrell di Brussels mengatakan kematian Floyd disebabkan oleh penyalahgunaan kekuasaan.

"Seperti rakyat Amerika, kami terkejut dengan kematian George Floyd," kata Borrell.

Tetapi dengan pecahnya demonstrasi yang kacau selama tujuh malam turut-turut, Borrell menekankan Eropa "mendukung hak bagi demonstrasi damai dan mengutuk kekerasan serta rasisme dalam bentuk apa pun, dan juga menyerukan penurunan ketegangan."

Ribuan orang berbaris di pusat kota Sydney, kota terbesar di Australia, dengan lebih banyak lagi demonstrasi direncanakan di Paris dan tempat lainnya di Perancis, serta demonstrasi di Den Haag, Belanda.

Para demonstran Australia meneriakkan, "Saya tidak bisa bernapas," yang berulang kali diucapkan Floyd ketika diborgol dan telungkup di jalan kepada seorang polisi kulit putih, Derek Chauvin, yang menekan lututnya ke leher Floyd selama lebih dari delapan menit. Chauvin telah didakwa dengan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan secara sengaja dalam kasus ini.

Para demonstran Australia membandingkan kasus Floyd dengan kasus David Dungay, seorang laki-laki Aborigin berusia 26 tahun yang meninggal di penjara Sydney pada 2015 ketika ditahan oleh lima polisi. Dungay juga megap-megap sebelum meninggal sehingga ia tidak bisa bernapas.

Para pengunjuk rasa membawa plakat merujuk pada demonstran di AS yang mengatakan, "Kami Melihat Anda, Kami Mendengar Anda, Kami Mendukung Anda." Plakat lainnya berbunyi, "Kami di sini karena mereka tidak mendukung," yang menunjukkan gambar Floyd dan Dungay.

Para pemimpin Afrika juga mengecam kematian Floyd ketika berada dalam tahanan polisi.

Presiden Ghana, Nana Akufo-Addo, dalam sebuah pernyataan mengatakan "Ada yang tidak benar kalau pada abad ke-21 ini, Amerika yang katanya benteng besar demokrasi , masih bergelut terus dengan masalah rasisme yang sistemik."

Pemimpin oposisi Kenya dan mantan Perdana Menteri Raila Odinga mengatakan ia berdoa "agar ada keadilan dan kebebasan bagi semua manusia yang menyebut Amerika sebagai negaranya."

Sumber : VOA

RELATED NEWS

Kolombia Tangkap Tersangka Serangan Bom di Akademi Kepolisian
Saturday, 4 July 2020 01:40 WIB

Kolombia menangkap delapan pemberontak sayap kiri yang dituduh menewaskan sedikitnya 22 orang dalam serangan bom terhadap sebuah akademi kepolisian. Laskar Pembebasan Nasional (ELN) mengaku bertanggung jawab atas serangan bom mobil pada Januari 2019 di ibu kota, Bogota. Kelompok pemberontak itu men...

Senat AS Setujui RUU yang Menarget Entitas terkait UU Keamanan Hong Kong
Friday, 3 July 2020 17:34 WIB

Senat Amerika hari Kamis (2/7) menyetujui RUU yang akan menghukum individu atau perusahaan yang melakukan bisnis dengan pejabat China yang bertanggung jawab dalam penerapan undang-undang keamanan baru di Hong Kong. Senat yang dipimpin Partai Republik dengan suara bulat meloloskan Rancangan Undang-U...

Pemerintahan Trump Mengumumkan Rencana Perayaan Besar-Besaran Hari Kemerdekaan di Ibu Kota
Friday, 3 July 2020 13:38 WIB

Pemerintahan Presiden Donald Trump terus melanjutkan rencana untuk mengadakan perayaan hari kemerdekaan tradisional 4 Juli di Washington DC, lengkap dengan pertunjukan kembang api besar-besaran, meskipun pandemi Covid-19 sedang terjadi. Rencana perayaan œSalute to America atau Penghormatan bag...

Pemilih Rusia Muluskan Jalan bagi Putin Berkuasa Hingga 2036
Thursday, 2 July 2020 23:21 WIB

Para pemilih di Rusia telah menyetujui suatu paket reformasi konstitusi yang mencakup pembukaan kemungkinan bagi Presiden Vladimir Putin untuk dapat tetap menjadi presiden hingga 2036. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, Kamis (2/7) mengatakan hasil tersebut merupakan suatu œkemenangan. Para t...

Perusahan AS dan Jerman Klaim Pengembangan Vaksin Covid-19 Menjanjikan
Thursday, 2 July 2020 17:43 WIB

Sejumlah ilmuwan Amerika dan Jerman mengatakan tes dari kandidat vaksin Covid-19 menunjukkan hasil menggembirakan. Pfizer dari AS dan BioNTech dari Jerman telah bergabung dalam Proyek Lightspeed dan sasarannya adalah menciptakan vaksin anti-Covid-19. Keduanya mengumumkan Rabu (1/7), œdata positi...

ANOTHER NEWS
Saham Hong Kong Akhiri Pekan Ini dengan Catatan Kuat (Review)
Saturday, 4 July 2020 03:45 WIB Saham Hong Kong berakhir dengan lebih tinggi pada hari Jumat, memperpanjang kenaikan hampir tiga persen hari sebelumnya, karena pasar global didorong oleh pembacaan yang lebih baik dari perkiraan pada penciptaan lapangan kerja AS. Indeks Hang Seng...

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.