Erdogan Mengkritik Gerakan UE untuk Melaksanakan Embargo Senjata Libya
Wednesday, 19 February 2020 23:54 WIB | GLOBAL |Global

Presiden Turki, Rabu, mengkritik keputusan Uni Eropa untuk meluncurkan upaya maritim yang difokuskan pada penegakan embargo senjata AS di sekitar Libya, menuduh negara-negara Eropa yang menyetujui operasi "campur tangan di kawasan itu."

Recep Tayyip Erdogan juga memuji keputusan pemerintah Libya yang didukung AS untuk menarik diri dari perundingan dengan saingan menyusul serangan Selasa di pelabuhan laut ibukota Libya, Tripoli.

Para menteri luar negeri Uni Eropa sepakat awal pekan ini untuk mengakhiri Operasi Sophia, misi angkatan laut blok itu di Laut Mediterania, dan meluncurkan upaya maritim yang lebih terfokus pada penerapan embargo senjata AS di sekitar Libya.

Operasi Sophia didirikan pada 2015 ketika puluhan ribu migran menyeberangi lautan dari Afrika Utara ke Eropa. Tujuannya adalah untuk menindak penyelundupan migran, tetapi juga untuk memberlakukan embargo senjata tahun 2011, yang secara rutin dilanggar.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan beberapa negara Eropa telah menawarkan diri untuk mengambil bagian dalam operasi baru itu.

Libya telah berada dalam kekacauan sejak 2011, ketika perang saudara menggulingkan diktator lama Moammar Gadhafi, yang kemudian terbunuh. Gejolak tanpa henti kemudian melanda negara kaya minyak itu, yang kini terpecah antara pemerintah saingan yang berpusat di timur dan barat, masing-masing didukung oleh sejumlah negara asing yang tampaknya berebut pengaruh untuk mengendalikan sumber daya Libya.

Pemerintah yang didukung oleh AS di Tripoli didukung oleh Turki dan Qatar. Di sisi lain adalah pasukan komandan Khalifa Hifter yang berbasis di timur, yang mengandalkan bantuan militer dari Uni Emirat Arab dan Mesir, serta Perancis dan Rusia.

Hifter berada di Moskow pada hari Rabu dan bertemu dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Sumber: VOA

RELATED NEWS

China Tak Punya Rekam Jejak Pasien Corona yang Sembuh dan Kembali Positif
Wednesday, 1 April 2020 16:36 WIB

Setelah pengetesan negatif dua kali berturut-turut, seorang pasien virus corona di Wuhan, yang pernah menjadi pusat wabah itu, baru-baru ini diperbolehkan pulang dari salah satu unit rumah sakit keliling corona. Belum sempat merasakan kebebasannya, ia kemudian mendapat telepon dari otoritas kesehat...

Iran Peroleh Bantuan Medis Lewat Mekanisme Hindari Sanksi AS
Wednesday, 1 April 2020 00:01 WIB

Jerman, Inggris dan Perancis telah memfasilitasi ekspor barang-barang kebutuhan medis ke Iran. Ini merupakan ekspor pertama yang menggunakan suatu mekanisme yang dirancang untuk menghindari sanksi-sanksi AS, sebut Jerman, Selasa (31/3). Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Jerman, Selasa ...

Pengadilan Singapura Tolak Batalkan UU Kriminalisasi Seks Kaum Gay
Tuesday, 31 March 2020 16:24 WIB

Komunitas LGBTQ + Asia mengalami kemunduran, Senin (30/3), setelah Pengadilan Tinggi Singapura menolak beberapa tuntutan pembatalan sebuah hukum kolonial yang mengkriminalisasi seks kelompok gay. Meskipun sejumlah jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga Singapura tidak menerima homoseksuali...

Pangeran Charles Keluar dari Swa-isolasi dalam Kondisi Sehat
Tuesday, 31 March 2020 00:25 WIB

Pewaris takhta Inggris Pangeran Charles yang telah dinyatakan positif tertular virus corona, keluar dari pengisolasian diri selama tujuh hari dan dalam kondisi kesehatan yang baik, kata juru bicaranya hari Senin (30/3). Pekan lalu, kantornya, Clarence House, mengungkapkan bahwa pangeran berusia 71 ...

Inggris dalam Status Darurat untuk Pertama Kali Sejak PD II
Monday, 30 March 2020 17:03 WIB

Inggris dalam keadaan darurat untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II Langkah itu berarti pemerintah Inggris mendirikan apa yang disebutnya pusat-pusat koordinasi strategis di seluruh Inggris untuk mendistribusikan pasokan kepada masyarakat untuk membantu mengatasi wabah virus corona. Ada lebi...

ANOTHER NEWS
China Tak Punya Rekam Jejak Pasien Corona yang Sembuh dan Kembali Positif
Wednesday, 1 April 2020 16:36 WIB Setelah pengetesan negatif dua kali berturut-turut, seorang pasien virus corona di Wuhan, yang pernah menjadi pusat wabah itu, baru-baru ini diperbolehkan pulang dari salah satu unit rumah sakit keliling corona. Belum sempat merasakan...

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.