Parlemen India Membahas Bahaya Udara Beracun
Wednesday, 20 November 2019 10:48 WIB | GLOBAL |Global

Parlemen India pada hari Selasa memperdebatkan udara beracun yang mengancam kehidupan 48 juta orang di wilayah ibu kota, dengan para pemimpin oposisi menuntut pembentukan panel parlemen untuk memperbaiki situasi pada basis jangka panjang.

Dalam diskusi yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang masalah ini, pemimpin partai oposisi Kongres, Manish Tewari, mengatakan pemerintah federal telah membiarkan pengadilan tinggi negara itu mengambil inisiatif dalam memutuskan bagaimana memerangi masalah tersebut.

Polusi udara di India utara memuncak di musim dingin karena asap dari kebakaran pertanian. Asap bercampur dengan emisi kendaraan dan debu konstruksi. Awal bulan ini, indeks kualitas udara di New Delhi melampaui 500, sekitar 10 kali maksimum yang direkomendasikan.

Pada hari Selasa, angin kencang membawa tingkat ke 249, menurut Badan Pengendalian Polusi Pusat yang dikelola pemerintah.

Tewari dan Pinaki Mishra, seorang anggota parlemen dari partai Biju Janata Dal, menuntut agar pemerintah memberikan insentif kepada petani dan menyediakan mesin untuk menghilangkan tunggul pertanian untuk menghentikan praktik membakar ladang sebelum menanam tanaman baru.

Mishra juga menuntut larangan petasan berkualitas buruk dengan kandungan sulfur tinggi. Jutaan orang Hindu menggunakan kembang api selama pernikahan dan festival keagamaan sepanjang tahun.

Sumber: VOA

RELATED NEWS

Rusia Dilarang Ikut Olimpiade Selama 4 Tahun Karena Doping
Monday, 9 December 2019 23:50 WIB

Komite eksekutif World Anti-Doping Agency (WADA) atau œBadan Anti-Doping Dunia telah mengirim teguran œkeras kepada otoritas olahraga Rusia, dan melarang atlet dan pejabat dari negara itu ikut Olimpiade dan kejuaraan dunia dalam berbagai jenis olahraga selama empat tahun. Komite itu membu...

AS Mulai Lagi Perundingan Perdamaian dengan Taliban
Monday, 9 December 2019 17:49 WIB

AS dan Taliban memulai kembali perundingan perdamaian Sabtu (7/12), tiga bulan setelah Presiden AS Donald Trump secara tiba-tiba menyetop proses yang telah berjalan setahun. Perundingan tersebut bertujuan untuk mencari kesepakatan politik dengan kelompok pemberontak itu dan mengakhiri perang di Afgh...

FBI Selidiki Penembakan di Pangkalan Angkatan Laut Amerika Sebagai Aksi Terorisme
Monday, 9 December 2019 11:07 WIB

FBI sedang menyelidiki penembakan fatal di sebuah pangkalan Angkatan Laut di Florida sebagai aksi terorisme, demikian pernyataan seorang agen khusus, Minggu (8/12). Dalam konferensi pers hari Minggu, Rachel Rojas, agen khusus yang bertanggungjawab atas kantor FBI di Jacksonville, mengatakan penyeli...

Kaum Minoritas di Pakistan Menunggu Vonis Ulama Radikal
Friday, 6 December 2019 17:05 WIB

Kaum minoritas di Pakistan dengan cemas menunggu putusan pengadilan terakhir terhadap ulama garis keras yang didakwa bulan lalu atas tuduhan penghasutan dan terorisme. Ulama itu dituduh mendorong unjuk rasa nasional di Pakistan. Pengadilan Antiterorisme (ATC) di Provinsi Punjab, Pakistan, secara re...

AS Pertimbangkan Kirim Pasukan Tambahan ke Timur Tengah
Friday, 6 December 2019 11:09 WIB

Koran Wall Street Journal melaporkan, Rabu (4/12), bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan untuk mengirim tambahan 14 ribu tentara lagi ke Timur Tengah dalam menghadapi ancaman Iran. Rencana pengerahan pasukan itu mencakup "puluhan" kapal lebih banyak dan dua kali lipat jumlah pasukan ya...

ANOTHER NEWS
Minyak tergelincir terbebani data ekspor China yang lemah
Tuesday, 10 December 2019 03:21 WIB Harga minyak turun pada Senin ini setelah data menunjukkan ekspor China turun selama empat bulan berturut-turut, sehingga mengirim kegelisahan pasar yang sudah khawatir akan kerusakan permintaan global oleh perang perdagangan antara Washington dan...

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.