Perubahan Iklim Akan Mengarah Pada Pekerjaan Besar dan Picu Kerugian Ekonomi
Tuesday, 2 July 2019 11:01 WIB | GLOBAL |Global

Sebuah laporan baru memperingatkan bahwa meningkatnya stress akibat pemanasan global bisa menyebabkan orang kehilangan pekerjaan dan mengalami kerugian ekonomi tahun 2030, terutama bagi negara-negara miskin.

laporan Organisasi Buruh Sedunia (ILO) itu yang berjudul "Bekerja di planet yang memanas: Dampak stres akibat suhu panas terhadap produktifitas kerja dan pekerjaan yang layak."

Para penulis studi itu menyebut perkiraan mereka itu dibuat berdasarkan kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celcius pada akhir abad. Para ilmuwan iklim memprediksi suhu bisa naik sampai 3 derajat Celcius.

Laporan itu mengatakan orang-orang yang bekerja di luar ruangan terutama di sektor pertanian dan konstruksi akan paling terkena dampaknya. Dikatakan, sektor pertanian akan kehilangan 60 persen jam kerja global, disusul sektor konstruksi yang akan kehilangan sekitar 19 persen.

Kepala departemen riset ILO dan penulis utama laporan itu, Catherine Saget, mengatakan Asia selatan dan Afrika barat adalah wilayah yang paling terkena dampak paling serius. Dia mengatakan tujuh wilayah yang paling terkena dampaknya adalah negara-negara yang paling tidak maju di Afrika.

Laporan ILO mengenai naiknya suhu dan meningkatnya stres di tempat kerja akan menyebabkan hilangnya pekerjaan penuh waktu bernilai 80 juta dolar dan kerugian ekonomi global sebesar 2.4 triliun dolar pada 2030.

ILO mendesak pemerintah-pemerintah untuk menegakkan kebijakan untuk mengatasi risiko stres akibat suhu panas dan melindungi para pekerja. Termasuk dengan menciptakan kondisi kerja lebih baik dan memperbaiki sistem peringatan dini bagi peristiwa panas. ILO juga menyerukan ditingkatkannya keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja dan untuk membantu warga mengatasi bahaya terkait suhu panas.

Sumber : VOA News

RELATED NEWS

Senat AS Setujui RUU yang Menarget Entitas terkait UU Keamanan Hong Kong
Friday, 3 July 2020 17:34 WIB

Senat Amerika hari Kamis (2/7) menyetujui RUU yang akan menghukum individu atau perusahaan yang melakukan bisnis dengan pejabat China yang bertanggung jawab dalam penerapan undang-undang keamanan baru di Hong Kong. Senat yang dipimpin Partai Republik dengan suara bulat meloloskan Rancangan Undang-U...

Pemerintahan Trump Mengumumkan Rencana Perayaan Besar-Besaran Hari Kemerdekaan di Ibu Kota
Friday, 3 July 2020 13:38 WIB

Pemerintahan Presiden Donald Trump terus melanjutkan rencana untuk mengadakan perayaan hari kemerdekaan tradisional 4 Juli di Washington DC, lengkap dengan pertunjukan kembang api besar-besaran, meskipun pandemi Covid-19 sedang terjadi. Rencana perayaan œSalute to America atau Penghormatan bag...

Pemilih Rusia Muluskan Jalan bagi Putin Berkuasa Hingga 2036
Thursday, 2 July 2020 23:21 WIB

Para pemilih di Rusia telah menyetujui suatu paket reformasi konstitusi yang mencakup pembukaan kemungkinan bagi Presiden Vladimir Putin untuk dapat tetap menjadi presiden hingga 2036. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, Kamis (2/7) mengatakan hasil tersebut merupakan suatu œkemenangan. Para t...

Perusahan AS dan Jerman Klaim Pengembangan Vaksin Covid-19 Menjanjikan
Thursday, 2 July 2020 17:43 WIB

Sejumlah ilmuwan Amerika dan Jerman mengatakan tes dari kandidat vaksin Covid-19 menunjukkan hasil menggembirakan. Pfizer dari AS dan BioNTech dari Jerman telah bergabung dalam Proyek Lightspeed dan sasarannya adalah menciptakan vaksin anti-Covid-19. Keduanya mengumumkan Rabu (1/7), œdata positi...

Pompeo Sebut UU Keamanan Hong Kong Penghinaan
Thursday, 2 July 2020 11:12 WIB

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Rabu (1/7) mengatakan Undang-Undang (UU) Keamanan Hong Kong yang diberlakukan oleh China merupakan penghinaan kepada semua negara, dan Washington mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri perizinan khusus bagi kawasan China itu. œAS sangat prihatin dengan pera...

ANOTHER NEWS
Harga Minyak Melemah; Terbebani Perselisihan OPEC dan Kasus Virus
Friday, 3 July 2020 18:59 WIB Pasar minyak merosot pada hari Jumat karena kebangkitan kembali kasus Covid-19, khususnya di AS, konsumen terbesar di dunia, mengancam pemulihan permintaan minyak mentah. Pada pukul 07:30 ET (11:30 GMT), minyak mentah berjangka AS diperdagangkan...

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.