Mencari Dukungan Brexit, Mei Menawarkan Vote pada Referendum Baru
Wednesday, 22 May 2019 00:03 WIB | GLOBAL |Global

Dalam sebuah konsesi besar, Perdana Menteri Inggris Theresa May pada hari Selasa menawarkan kepada anggota parlemen kesempatan untuk memberikan suara apakah akan mengadakan referendum baru mengenai keanggotaan negara di Uni Eropa - tetapi hanya jika itu mendukung perjanjian Brexit yang ditolaknya sebanyak tiga kali.

Mei mengajukan tawaran sebagai bagian dari upaya untuk membujuk Parlemen untuk mendukung perjanjian perceraian yang akan memungkinkan Inggris meninggalkan Uni Eropa secara teratur.

Dia berencana untuk meminta House of Commons untuk memberikan suara pada awal Juni pada tagihan perjanjian penarikan, dalam apa yang disebutnya "kesempatan terakhir" untuk menyegel kesepakatan Brexit.

Dalam pidatonya Selasa, May mengatakan RUU itu akan mencakup "persyaratan untuk memilih apakah akan mengadakan referendum kedua dan ini harus dilakukan sebelum Perjanjian Penarikan dapat diratifikasi."

Tetapi referendum Brexit hanya akan terjadi jika Parlemen mendukung RUU penarikan Uni Eropa dan itu menjadi undang-undang, sesuatu yang tampaknya masih tidak mungkin.

Inggris dijadwalkan meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret, tetapi blok itu memperpanjang batas waktu hingga 31 Oktober di tengah kebuntuan politik. Pembicaraan tentang mengamankan kompromi pada kesepakatan Brexit antara Konservatif May dan Partai Buruh oposisi gagal pekan lalu.

Sumber: VOA

RELATED NEWS

Kapal China Tabrak Kapal Nelayan Filipina, Duterte Serukan Ketenangan
Tuesday, 18 June 2019 00:00 WIB

Presiden Filipina menyerukan ketenangan di tengah protes keras karena sebuah kapal China menabrak kapal nelayan Filipina sampai tenggelam dan membahayakan 22 nelayannya di Laut China Selatan yang disengketakan. Presiden Rodrigo Duterte mengemukakan, Senin, insiden 9 Juni di Reed Bank itu merupakan ...

India Naikkan Tarif Impor atas 28 Produk Amerika
Monday, 17 June 2019 17:15 WIB

India telah menaikkan tarif impor atas 28 jenis barang buatan Amerika, dalam sengketa dagang antara kedua negara yang terus meningkat. Tindakan balasan itu dilancarkan beberapa hari setelah Amerika mencabut India dari daftar negara yang diberi akses khusus untuk mengekspor barangnya ke Amerika. œ...

AS Jamin Jalur Pelayaran di Selat Hormuz
Monday, 17 June 2019 10:39 WIB

Amerika mengatakan akan œmenjamin kebebasan navigasi bagi pelayaran melalui Selat Hormuz lewat perundingan diplomatik atau intervensi militer, dan kembali menegaskan bahwa œtidak salah lagi Iran yang melancarkan serangan-serangan terhadap dua kapal tanker yang berlayar melalui jalur sempit...

Sejumlah Saksi dan Informan Asing FBI Hilang di AS
Friday, 14 June 2019 23:52 WIB

Puluhan warga asing, yang direkrut Biro Investigasi Federal (FBI) sebagai saksi dan informan, menghilang antara 2015 dan 2017 di Amerika, menurut hasil audit baru. Inspektur Jenderal Departemen Kehakiman mengatakan dalam audit yang dirilis pada Rabu (12/6) bahwa dalam banyak kasus, FBI gagal melapo...

AS Tuding Iran atas Serangan 2 Tanker Minyak di Teluk Oman
Friday, 14 June 2019 18:41 WIB

Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo menyalahkan Iran atas serangan hari Kamis terhadap dua kapal minyak di Teluk Oman, di lepas pantai Iran. Salah satu tanker itu terbakar dan asap tebal dan hitam yang membubung tampak oleh satelit di antariksa. Pompeo mengatakan AS menuduh Iran berada dibalik...

ANOTHER NEWS
Kapal China Tabrak Kapal Nelayan Filipina, Duterte Serukan Ketenangan
Tuesday, 18 June 2019 00:00 WIB Presiden Filipina menyerukan ketenangan di tengah protes keras karena sebuah kapal China menabrak kapal nelayan Filipina sampai tenggelam dan membahayakan 22 nelayannya di Laut China Selatan yang disengketakan. Presiden Rodrigo Duterte...

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.